Jumat, 01 Juni 2012

permasalahan lingkungan hidup


Permasalahan Lingkungan Hidup dan Upaya Penanggulangannya dalam Pembangunan Berkelanjutan

Materi 3. Mendeskripsikan permasalahan lingkungan hidup dan upaya penanggulangannya dalam pembangunan berkelanjutan
§ Lingkungan adalah Ruangan yang ditempati makhluk hidup dan benda yang tidak hidup
§ Ekosistem adalah saling berinteraksi antara makhluk hidup demgan makhluk tak hidup yang membentuk system
§ Timbal Balik adalah hubungan manusia dengan makhluk hidup lain dan benda mati
A. Unsur- unsur Lingkungan
Pengertian:
Lingkungan terdiri atas unsur biotik (unsur hayati atau makhluk hidup), Unsur abiotik (unsur fisik atau benda mati), dan unsur sosial budaya.
1. Unsur Biotik
Unsur biotik yang terdapat dalam lingkungan hidup adalah manusia, hewan [Fauna], tumbuhan [Flora]dan jasat renik.
Berdasarkan pada interaksi dan kemampuanya dalam mengikat energi, unsur biotik dalam lingkungan dapat dibedakan menjadi 3 kelompok yaitu:
§ Produsen
Produsen adalah: makhluk hidup yang dapat mensintesis zat makanan sendiri dengan bantuan energi matahari.
§ Konsumen
Konsumen adalah:kelompok organisme yang tidak mampu mensintesis makanan sendiri, sehingga untuk memenuhi kebutuhan hidupnya mengambil dari produsen
Contoh yang termasuk Produsen adalah: Manusia, hewan, organisme heterotrof
§ Pengurai
Pengurai adalah organisme yang berperan dalam menguraikan sisa- sisa makhluk hidup. Pengurai disebut juga decomposer. Pengurai akan menguraikan senyawa organic menjadi senyawa anorganic.
2. Unsur Abiotik [ Unsur Fisik ]
Unsur abiotik yang terdapat diantara kita antara lain tanah air, sinar matahari, udara, senyawa kimia, dan makhluk yang tidak hidup lainya.
Fungsi Unsur Abiotik sebagai media berlangsungnya kehidupan
Contoh:
? Tanah diperlukan tumbuhan untuk tempat hidup
? Air diperlukan tumbuhan untuk mengalirkan zat makanan
? Udara diperlukan tumbuhan untuk bernafas
Apabila activitas seluruh kehidupan tumbuhan terganggu akibat unsur abiotik yang tidak menunjang, maka activitas seluruh kehidupan di seluruh muka bmi akan terhambat.
3. Unsur sosial dan budaya
Unsur sosial adalah: hal- hal yang berkaitan dengan masyarakat
Unsur budaya adalah: keseluruhan system, nilai, atau gagasan tindakan dan kewajiban yang dimiliki manusia untuk menentukan perilaku sebagai makhluk sosial dan dalam kehidupan bermasyarakat yang didapatnya dengan cara belajar.
Unsur sosal budaya dapat dikembangkan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
B. Arti Penting Lingkungan Bagi Kehidupan
Lingkungan hidup merupakan tempat berinteraksi makhluk hidup yang membentuk suatu system jaringan kebutuhan, yaitu: jenis dan jumlah masing- masing unsur lingkungan, interaksi antar unsur dalam lingkungan hidup, perilaku dan konndisi unsur lingkungan hidup dan factor material, seperti suhu dan cahaya.
C. Bentuk- bentuk kerusakan Lingkungan hidup Dan factor penyebabnya
Menurut Otto Soemarwoto (1989) untuk mengatur kwalitas hidup manusia, yaitu terpenuhinya kebutuhan makhluk hidup hayati seperti air dan udara, terpenuhinya kebutuhan hidup manusia seperti perumahan, pakaian , pendidikan, dan kesehatan dan terpenuhinya derajad kebebasan yang dibatasi oleh hukum tertulis ataupun tidak tertulis seperti: aturan- aturan yang dibuat oleh pemeritah.
Berdasarkan factor penyebabnya,bentuk kerusakan lingkungan hidup yaitu:
*Bentuk kerusakan lingkungan hidup akibat proses alam
Contoh:
? Pemukiman rusak akibat hujan
? Hancurnya bangunan akibat gempa
? Hancurnya wilayah akibat tsunami
*Akibat aktifitas manusia
Contoh:
? Terjadinya Iklim Mikro
Ket. Perubahan iklim mikro dan berkurangnya daerah perserapan air di perkotaan akibat pembangunan gedung- gedungserta berkurangnya daerah hujan di perkotaan.
? Terjadinya Pencemaran Lingkunagan
Ket. Itu akan terjadi apabila lingkungan hidup manusia terdapat suatu polutan dalam jumlah besar yang dihasilkan oleh activities manusia.
Polutan adalah: zat yang menyebabkan pencemaran. Sifat polutan ada dua antara lain sebagai berikut:
1. Merusak sementara
Dalam kondisi rendah, polutan dapat merusak lingkungan hidup tetapi hanya bersifat sementara. Apabila polutan telah bereaksi terhadap lingkungan maka tralisir polutan.
2. Merusak dalam waktu lama
Dalam permasalahan pencemaran lingkungan, terdapat tiga komponen pokok yaitu lingkungan yang terkena adalah lingkungan hidup manusia, yang terkena akibat negative adalah manusia, dan terdapat bahan berbahaya sebagai akibat activities manusia.
Macam pencemaran menurut tempat terjadinya dibedakan menjadi tiga yaitu:
Q Pencemaran air
Pencemaran air di suatu perairan dapat terjadi akibat bahan limbah yang berasal dari bahan buangan domestic, industri, dan perairan. Ciri air tercemar adalah: kandungan kimianya, warna, bau, kandungan oli, benda padat yang ada di dalamnya
Q Pencemaran udara
Pada umumnya pencemaran udara di sebabkan oleh buangan emisi atau bahan pencemar proses produksi, seperti buangan pabrik, asap kendaraan dan asap rumah tangga, dan kebisingan kendaraaan. Akibat dari pencemaran udara antara lain: hujan asam terjadi karena pencampuran senyawa nitrat, sulfat, dan oksida dengan air hujan, rusaknya lapisan ozon dan effec rumah kaca.
Q Pencemaran tanah
Pencemaran ini di sebabkan oleh polutan. Seperti : kenaikan beban limbah, terutama
sampah padat, seperti kaleng plastic, kaca.
? Kerusakan Hutan
Hutan merupakan paru - paru duniayang dapat menyeimbangkan kadar O2 di udara dan sumber utama pemenuhan kebutuhan manusia.
Fungsi hutan antara lain: menyimpan air hujan, mengatur kelestarian air di permukaan bumi, menghasilkan berbagai komoditi, mengatur kesuburan tanah, dan menjadi hanitat Flora dan Fauna di permukaan bumi.
D. Usaha Pelestarian Lingkungan Hidup
Pelestarian lingkunagn hidup yang dilakukan di Indonesia mengacu pada UU No.23 1997. UU ini berisi tentang rangkaian upaya untuk melindungi kemampuanlingkungan hidup terhadap terhadap tekanan perubahan dan dampak negative yang ditimbulkan suatu kegiatan. Upaya ini dilakukan agar kekayaan sumberdaya alam yang ada dapat berlanjut selama ada kehidupan.
Contoh usaha dari pemerintah yang di gunakan untuk melestarikan lingkungan hidup:
Q Pelestarian sumberdaya air
Dilakukan dengan cara mencegah pencemaran, penyediaan resapan air, pengamanan pintu- pintu air, dan penghematan air. Program yang lain untuk melestarikan air dari pemerintah adalah program air bersih yang di rencanakan oleh Departemen Kesehatan dan Departemen Kesehatan Umum, program penghijauan di area peresapan air, untuk fungsi estetika dan rekreasi.
Q Pelestarian sumber daya udara
Dilakukan dengan cara penyaringan terhadap pembuangan gas yang berasal dari pabrik dan sebagainya, penanaman di area pembatas jalan raya dan hutan kota yang berfungsi sebagai paru-paru kota.
Q Pelestarian sumberdaya hutan
Pelestarian ini dilakukan dengan cara seperti system tumpang sari pada lahan pertanian, reboisasi, tata guna lahan, dan peraturan tebang pilih tanam Indonesia [ TPTI ].
Q Pelestarian keanekaragaman hayati
Pelestarian ini dapat berupa pelestarian hutan, varietas tenaman asli dan fauna asli, seperti jenis rojolele, serta tanaman asli bunga melati dan satwa nasional komodo.
Usaha pelestarian ini dapat dilakukan oleh penduduk seperti, penghematan air yang digunakan sehari- hari, pengelompokan sampah menjadi sampah organic dan anorganic, dan penggunaan sumberdaya alam yang tidak dapat di perbaharui sehemat mungkin.
E. Tujuan dan Saran Pembangunan Nasional
Pembangunan berfungsi untuk meningkatkan kwalitas hidup penduduk. Kwalitas hidup dapat diartikan sebagai derajat dipenuhinya kebutuhan dasar yang esensial sehingga kehidupan menjadi lebih baik. Kebutuhan dasar tersebut terdiri atas kebutuhan dasar untuk kelangsungan hidup hayati, kehidupan dalas untuk kelangsungan hidup manusiawi, dan derajad kebebasan untuk memilih.
Agar kebutuhan dasar terpenuhi maka kemampuan lingkungan yang mendukung kehidupan perlu di tingkatkan hal itu dilakukan dengan cara menjaga lingkungan agar tidak rusak. Masih adanya ketimpangan ekonomi dan kesenjangan sosial yang dapat menimbulkan kecemburuan sosial, hal itu terjadi karena pembangunan dan hasil- hasilnya, belum dapat dinikmati secar adil. Dalam bidang lingkungan hidup, pembangunan diarahkan untuk meningkatkan fungsi dan kwalitas lingkungan hidup. Dengan demikian, kegiata sosial ekonomi masyarakat dan usaha pemanfaatan sember daya alam berlangsung secara berkelanjutan. Tujuan itu dapat dicapai dengan usaha yaitu kesadaran tentang pentingnya fungsi lingkungan hidup pada semua aspek kehidupan.
Pembangunan Berkelanjutan dan Masalah Kependudukan
*Hakikat Pembangunan berkelanjutan : Pembangunan adalah seperangkat usaha yang terencana dan terarah untuk menghasilkan sesuatu yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan dan meningkatkan hidup manusia. Pembangunan berwawasan lingkungan adalah upaya peningkatan kualitas secara bertahap dengan memperhatikan factor lingkungan. Pembangunan berwawasan Lingkungan dikenal dengan pembangunan Berkelanjutan. Pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengorbankan kemampuan pemenuhan kebutuhan generasi mendatang.
*Ciri-ciri Pembangunan Berkelanjutan :
Ø Menjamin pemerataan dan keadilan, yaitu generasi mendatang memanfaatkan dan melestarikan sumber daya alam sehingga berkelanjutan.
Ø Menghargai dan melestarikan keanekaragaman hayati, spesies, habitat, dan ekosistem agar tercipta keseimbangan lingkungan.
Ø Menggunakan pendekatan intergratif sehingga terjadi keterkaitan yang kompleks antara manusia dengan lingkungan untuk masa kini dan mendatang
Ø Menggunakan padangan jangka panjang untuk merencanakan rancangan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya yang mendukung pembangunan.
Ø Meningkatkan kesejahteraan melalui pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana.
Ø Memenuhi kebutuhan masa sekarang tanpa membahayakan pemenuhan kebutuhan generasi mendatang dan mengaitkan bahwa pembangunan ekonomi harus seimbang dengan konservasi lingkungan.
o Penerapan Pembangunan Berkelanjutan : Pembangunan berkelanjutan bertumpu pada tiga pilar yaitu ekonomi, lingkungan hidup, dan social. Beberapa cara dapat diterapkan dalam pembanguna berkelanjutan antara lain :
[ Pembanguna suatu irigasi atau PLTA, diimbangi dengan usaha pelestarian hutan didaerah aliran sungai (DAS) sebagai sumber irigasi atau PLTA.
[ Penggalian barang tambang seperti batu bara, timah,nikel dan sebagainya di daerah hutan, supaya bekas-bekas galian tambang ditimbun kembali dan ditanami pohon-pohon.
[ Melibatkan masyarakat, terutama masyarakat pedesaan dalam pembangunan sehingga kehidupan semakin baik. Dengan meningkatnya kehidupan mereka maka akan berkurangnya perusakan lingkungan.

Sumber ;
http://windu2008.blogspot.com/2008/07/permasalahan-lingkungan-hidup-dan-upaya.html











PERMASALAHAN LINGKUNGAN HIDUP DI JAWA BARAT MENGANCAM KESELAMATAN RAKYAT.
 Dadang Sudardja. Ka. Divisi Kampanye Dan POR WALHI JABAR Contak : 081931220356 Hujan yang turun dan mengguyur di beberapa wilayah di Jawa Barat dalam pekan ini , telah menimbulkan bencana. Di Kecamatan Kertasari Kabupaten Bandung terjadi banjir lumpur yang menutup akses jalan de Desa Cibeureum yang berjarak kira-kira 50 km dari arah selatan kota Bandung. Puluhan rumah di Kp Cirawa dan Kampung Neglasari Desa Cibeureum Kecamatan Kertasari tergenang lumpur dan mengakibatkan kerusakan yang berat. Dinding rumah penduduk jebol akibat dihantam lumpur.
 Data resmi yang dikeluarkan oleh pihak Desa Cibeureum, menyebutkan, lumpur dengan ketinggian hingga 1 meter menggenangi empat titik sepanjang 400 meter di jalan raya Kertasari. Sebanyak 20 rumah dan dua mesjid tergenang lumpur di Kampung Cirawa. Diperkirakan kerugian fisik mencapai ratusan juta rupiah. Belum terganggunnya kehidupan ekonomi yang diakibatkan oleh terputusnya jalan.
 Sementara itu di Kabupaten Tasikmalaya 453 rumah yang terletak di daerah Ciandum, Kecamatan Cipatujah, diterjang banjir. Musibah itu terjadi akibat Sungai Cipanyerang yang berada di Ciandum meluap setelah di guyur hujan selama 3 hari terakhir.
 Dua kejadian ini cukup menggambarkan bahwa kondisi lingkungan di Jawa Barat dalam keadaan kritis. Berawal dari Alih Fungsi Lahan. Pokok permasalahan terjadinya degradasi sumberdaya lahan adalah karena inkonsistensi atau ketidak sesuaian antara penggunaan lahan dan ruang yang ada dengan arahan yang diperintahkan pada Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).
Sekitar 33% lahan tidak digunakan sesuai dengan arahan tata guna tanah dalam Rencana Tata Ruang bahkan selama lima tahun terakhir telah terjadi penyimpangan terhadap pemanfaatan kawasan lindung sekitar 12,9% .
Kondisi terbesar dari penyimpangan tersebut terutama disebabkan adanya alih fungsi pada kawasan hutan dan kawasan resapan air. Dari tahun 1994 sampai 2000, hutan lindung berkurang sekitar 106.851 ha (24%), sementara hutan produksi berkurang sekitar 130.589 ha (31 %).
 Pesawahan dalam periode ini telah diubah menjadi lahan bukan pesawahan seluas kurang lebih 165.903 ha (17%). Gejala ini bisa menurunkan daya dukung lingkungan wilayah Jawa Barat (Perda No. 2/2000: Pola Dasar Pembangunan Jawa Barat 2001-2007). Dalam periode 1994 hingga 2001 telah terjadi perubahan tata guna tanah yang cukup besar, yaitu berkurangnya hutan primer sebanyak 24%, hutan sekunder dan semak belukar 17%.
 Pemukiman, kawasan industri, perkebunan dan kebun campuran meluas masing-masing sebanyak 33%, 21%, 22% dan 29% hingga tingkat erosi di wilayah Jawa Barat telah mencapai 32.931.061 ton per tahun. Wilayah hutan yang sebelumnya 791.571 ha (22% daratan Jawa Barat) ternyata penutupan vegetasi hutannya hanyalah 9% atau sekitar 323.802 ha pada tahun 2000.
 Kerusakan keseluruhan wilayah hutan Jawa Barat diperkirakan akan terjadi dalam waktu dekat apabila tidak dilakukan tindakan-tindakan yang memadai (BPLHD Jawa Barat, 2002). Konversi lahan dari hutan alarm menjadi area yang rendah penutupan vegetasinya telah terjadi beberapa dekade di kawasan Bopuncur dan Depok.
Pembangunan villa dan perumahan di kawasan Puncak yang selama ini terjadi sudah melebihi aturan yang ditentukan yaitu 19.500 Ha untuk lahan permukiman perkotaan dan untuk hutan lindung 19.475 Ha (Keppres No.114 Tahun 1999).
 Pada kenyataannya kawasan kota dan pemukiman menjadi 20.500 Ha. Selain itu terjadi perubahan penggunaan lahan di DAS Ciliwung yang mengalami peningkatan luasan lahan budidaya dari 3.761 Ha (tahun 1990) menjadi 13.760 Ha (tahun 2000). Sementara itu volume banjir periodik 25 tahunan pun mengalami peningkatan dari 330 m3/detik pada tahun 1973 menjadi 740 m3/detik pada tahun 2000. Balai RLKT Wilayah IV melaporkan bahwa luas lahan kritis di Jawa Barat cenderung meningkat, terutama yang berada di luar kawasan hutan.
 Sampai tahun 1999 ada tiga kabupaten yang memiliki luas lahan kritis terbesar, yaitu : Kabupaten Bandung seluas 36.698 ha, Cianjur seluas 44.084 ha, dan Garut seluas 33.945 ha. Dinas Kehutanan Propinsi Jawa Barat (2004) melaporkan bahwa luas lahan kritis di DAS Citarum Hulu sudah mencapai 150.000 ha, Cimanuk Hulu seluas 24.000 ha, Citanduy sekitar 64.000 ha dan lebih dari 9000 ha lahan kritis di DAS Ciliwung Hulu.
Adanya lahan-lahan kritis umumnya disebabkan oleh adanya kegiatan yang secara langsung menyebabkan rusaknya daya dukung tanah/lahan antara lain pemanfaatan lereng bukit yang tidak sesuai dengan kemampuan peruntukannya, untuk lahan pertanian yang tidak menerapkan teknologi konservasi, bahkan tidak sedikit yang berubah fungsi menjadi areal permukiman.
 Pembangunan infrastruktur di Jawa Barat belum bisa mengikuti secara penuh pedoman yang diberikan dalam Rencana Tata Ruang dan Wilayah termasuk transportasi, irigasi, dan konservasi lingkungan. RTRW tidak mampu mengendalikan perencanaan regional yang menciptakan kesenjangan antara satu wilayah dengan wilayah lainnya (Rencana Strategis Jawa Barat 2001-2004).
 Permasalahan tersebut dapat ditelaah lebih lanjut dengan melihat masalah-masalah yang berkaitan dengan sektor dan komponen lingkungan atau sumberdaya lainnya. Misalnya, dampak dari adanya lahan kritis yaitu munculnya masalah banjir dan tanah longsor.
Di Jawa Barat daerah yang rawan banjir, yaitu Bandung (1.750 ha), Majalengka ( 530 ha ), Indramayu (16.600 ha), daerah pantai utara Subang ( 12.000 ha), Cirebon (450 ha), Ciamis (16.000 ha).
 Selain dampak adanya lahan kritis terhadap banjir, permasalahan lain yang sering muncul di Jawa Barat yaitu semakin sering terjadi bencana alam longsor. Bahaya longsor di Jawa Barat dapat dikategorikan ke dalam dua areal, yaitu di daerah jalan/prasarana transportasi dan di daerah permukiman penduduk.
 (Sumber BPLHD JABAR) Penutup Tingkat dan akselerasi kerusakan lingkungan saat ini telah lebih jauh berubah menjadi masalah sosial yang pelik. Aktifitas pembangunan saat ini telah menimbulkan masalah-masalah sosial seperti mengabaikan hak-hak rakyat atas kekayaan alam, marjinalisasi dan pemikisnan.
 Permasalahan lingkungan hidup juga bukan masalah yang berdiri sendiri dan harus dipandang sebagai masalah sosial kolektif. Oleh karenanya, masalah lingkungan hidup saat ini mau tidak mau juga harus mentransformasikan dirinya menjadi sebuah gerakan sosial.
Artinya seluruh komponen masyarakat seperti buruh, petani, nelayan guru, kaum profesional, pemuda, mahasiswa, remaja, anak-anak dan kaum perempuan harus bersatu melawan ketidak adilan lingkungan hidup. Dampak dari aktivitas pembangun yang tidak terkendali, telah membawa perubahan yang cukup ekstreem terhadap tatanan kehidupan, yang kemudian membawa dampak negatif terhadap kerusakan lingkungan dimuka bumi.
 Dampak yang ditimbulkan, telah mengancam keselamatan kehidupan manusia dan eksosistem.


Sumber ;
http://www.berpolitik.com/static/myposting/2007/11/myposting_247.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar